Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kekerasan pada Anak Meningkat, Kapitalisme Biangnya

Topswara.com -- Lagi dan lagi. Kasus kekerasan pada anak sepertinya tidak kunjung usai. Justru kian hari kian bertambah kasus kekerasan yang menimpa pada anak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melaporkan, ada 16.854 anak yang menjadi korban kekerasan pada 2023. 

Berbagai kekerasan tersebut tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikis, seksual, penelantaran, perdagangan orang, hingga eksploitasi. Jenis kekerasan yang paling banyak terjadi di tanah air sepanjang tahun lalu yakni kekerasan seksual. 

Seperti yang baru-baru ini viral. Anak seorang selebgram yang masih berusia 3 tahun diduga telah dianiaya oleh pengasuhnya sendiri hingga meninggalkan bekas memar di area wajah dan kepala. 

Kasus lain terjadi pada anak berusia 5 tahun dimana ia diduga dicabuli oleh ayah kandungnya sendiri sebanyak 4 kali. Hal ini diketahui dari cerita sang anak kepada ibunya yang kaget ketika melihat alat vital sang anak yang mengalami luka lebam dan mengeluh kesakitan.
(suara.com/01-0402024)

Sungguh miris nasib anak bangsa hari ini. Anak yang seharusnya mendapatkan jaminan keamanan dan keselamatan nyatanya malah dibayang-bayangi oleh tindak kekerasan baik secara fisik maupun mental mereka. Bahkan lingkungan keluarga sendiri pun tidak menjamin anak mendapatkan keamanan dan keselamatan sebagaimana mestinya.

Kapitalisme Sumber Masalah

KPAI menyebutkan ada beberapa penyebab anak menjadi korban kekerasan baik fisik dan atau psikis, salah satunya pengaruh negatif perkembangan teknologi dan informasi, permitivitas lingkungan sosial budaya, lemahnya kualitas pengasuhan, kemiskinan, tingginya angka pengangguran, serta kondisi lingkungan yang tidak ramah anak.

Kehidupan dalam sistem kapitalisme sekulerisme sudah pasti menjadi sumber masalah yang ada ini. Pertama, teknologi dan informasi yang semakin hari makin canggih tidak hanya memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam kehidupannya namun dalam sistem ini teknologi dijadikan ladang bisnis untuk meraup cuan yang banyak, asal menguntungkan itu akan tetap jalan sekalipun merusak bangsa. 

Tidak adanya kontrol negara yang ketat terhadap informasi yang beredar dimasyarakat seperti pembiaran tontonan yang penuh kekerasan, pergaulan bebas dan lainnya mempengaruhi pola pikir masyarakat yang tidak jarang memicu tindak kekerasan dan kejahatan.

Kedua, lingkungan sosial budaya masyarakat yang kini lebih individualis menjadikan masyarakat abai dan tidak peka terhadap lingkungannya. Tidak heran sistem kapitalisme ini menghasilkan masyarakat yang apatis, karena hanya disibukkan dengan urusan pribadinya sendiri. Tidak peduli dengan orang lain yang penting hidupnya sendiri aman-aman saja.

Ketiga, lemahnya kualitas pengasuhan.
Dalam sistem hari ini orang tua disibukkan dengan pekerjaannya baik ibu maupun ayah. Beban hidup yang tinggi memaksa keduanya untuk sama-sama bekerja untuk mencari nafkah. Tidak jarang anak hanya dititipkan kepada nenek atau pengasuh mereka sehingga pengasuhan yang didapatkan oleh anak tidak maksimal bahkan cenderung sangat kurang. 

Keempat, tingginya angka pengangguran dan kemiskinan. Beban kehidupan yang semakin berat, sulitnya mendapatkan pekerjaan dan terjadinya kesenjangan yang tinggi mempengaruhi kondisi mental masyarakat. Hal ini memicu tingkat stress yang tinggi dimasyarakat. 

Kelima, kondisi lingkungan yang tidak ramah anak. Program pemerintah yang mengusung "sekolah ramah anak" nyatanya tidak berhasil mengatasi kasus kekerasan pada anak ini. Tidak jarang tingkat kekerasan pada anak di sekolah dan dunia pendidikan malah lebih tinggi

Semua ini karena paradigma kapitalisme sekulerisme yang memisahkan agama dengan kehidupan. Setiap individu memandang bahwa hidupnya hanya untuk mencari materi dan kesenangan dunia sebanyak-banyaknya. 

Serta lemahnya kesadaran setiap individu bahwa perlindungan dan keamanan bagi anak adalah tanggungjawab bersama baik orang tua, masyarakat maupun negara.

Islam Memiliki Solusi

Islam memiliki mekanisme yang khas dalam mengatasi permasalah kekerasan pada anak ini. Asas akidah Islam menjadikan semua individu memahami kewajibannya untuk melindungi anak. Orang tua akan paham hak dan kewajibannya pada anak. Memberi nafkah, pendidikan, tempat tinggal yang aman dan nyaman, dan lain sebagainya.

Masyarakat yang peduli dengan sekitarnya akan menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Masyarakat yang tercipta adalah masyarakat yang peka terhadap kondisi saudara di sekitarnya, bukan masyarakat yang apatis.

Disamping itu negara juga memiliki peran yang sangat penting. Negara sebagai ra'in (pengurus urusan umat) memiliki tanggung jawab dalam memberikan jaminan keamanan dan keselamatan pada setiap individu termasuk anak-anak.
Kesejahteraan rakyat juga menjadi poin yang penting untuk diperhatikan mengingat tingkat stress yang tinggi menjadi salah satu pemicu tindak kekerasan.

Jadi bagi negara tidak hanya upaya kuratif yaitu memberi sanksi yang membuat jera pelaku kekerasan pada anak namun juga melakukan upaya preventif yaitu pencegahan dengan cara menjamin pendidikan berbasis akidah Islam, pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat, serta jaminan keamanan dan keselamatan bagi setiap warganya.

Maka Islam mewajibkan setiap individu memahami pentingnya perlindungan pada anak dan berperan serta mewujudkannya dalam seluruh lapisan masyarakat baik keluarga, masyarakat maupun negara.

Wallahualam.


Oleh: Dinar Rizki Alfianisa 
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar