Topswara.com -- Sungguh sadis sekali kejahatan yang dilakukan oleh 10 orang pria pada seorang pelajar SMP di Lampung. Korban diperkosa secara bergilir, disekap selama 3 hari tanpa makan minum, dan hanya dicekoki miras. Yang makin membuat miris, beberapa diantara para pelaku tinggal satu kelurahan dengan korban, dan 3 pelaku masih usia di bawah umur.
Tindakan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pelajar dan anak di bawah umur diantaranya adalah perang sarung alias tawuran. Kejadian ini tersebar di beberapa wilayah, diantaranya di Cilacap, Cianjur, Jakarta Selatan, Jogja, Pemalang, Semarang, Surabaya dan lainnya. Bahkan di Lampung Selatan seorang pelajar berusia 14 tahun tewas saat terlibat perang sarung (dikutip dari Kompas.id 19 Maret 2024).
Mengurai Permasalahan
Urgent untuk mengurai benang kusut maraknya kejahatan yang dilakukan remaja. Karena di tangan merekalah kelak estafet penerus peradaban akan beralih. Maka perlu menjaga, melindungi dan membina generasi muda agar menjadi generasi yang berkualitas.
Namun saat ini kita lihat banyak tindakan kejahatan yang justru dilakukan oleh generasi muda. Maka perlu untuk melakukan kritik pada peran pendidikan yang terbukti gagal mencetak generasi berakhlaq mulia. Generasi dalam balutan kehidupan yang jauh dari tuntunan agama, nyatanya akan tumbuh menjadi pelaku kriminal dan tidak takut dosa.
Disisi lain, sebagian besar anak-anak sekarang hidup di tengah keluarga yang kurang memberikan perhatian dan panduan agama. Banyak orangtua yang waktunya habis untuk mencari tambahan pemasukan. Sangat wajar ini terjadi, karena memang kita hidup dalam dunia kapitalistik yang mana semua fasilitas "menuntut" untuk mempunyai uang yang banyak.
Selain itu, faktor lingkungan sekitar juga berperan besar melahirkan individu-individu yang liberal. Lihat saja saat ini budaya saling menasihati sudah tak ada lagi di tengah-tengah masyarakat.
Dampaknya anak muda bebas saja bersikap walaupun jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam. Konsumsi tayangan kekerasan dan pornografi pun sudah jadi sesuatu yang "biasa saja". Maka sangat wajar jika lahir para pemuda yang hobi melakukan kerusakan dan tindakan kejahatan.
Sehingga fakta ini sejalan dengan firman Allah Ta'ala dalam surah Al A'raf ayat 179 yang artinya: "...mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.”
Islam Melahirkan Generasi Cemerlang
Sebagai sebuah sistem hidup yang sempurna, maka ajaran Islam memberikan panduan untuk mengkaitkan semua perkara dengan aturan Allah Ta'ala. Termasuk dalam mendidik generasi penerus peradaban, maka selayaknya para pemuda dijaga dan dididik agar mempunyai kepribadian Islam, cerdas dan berakhlaq mulia.
Dalam pengajaran Islam, metode talqiyan fikriyan digunakan untuk membentuk pemahaman yang benar pada peserta didik. Sehingga para pemuda bisa tahu dan tuntas dalam menghadapi setiap problem kehidupan.
Dalam Islam, negara akan tegas melarang semua tayangan yang merusak. Lantas semua tayangan yang dikonsumsi masyarakat adalah tayangan yang berisi tentang edukasi kesempurnaan tsaqafah Islam, perkembangan sains teknologi, berita sehari-hari, kewibawaan daulah Islam di mata dunia, hebatnya pasukan tentara kaum Muslimin dan tayangan mendidik lainnya. Dengan begitu maka nuansa keimanan dan ketaatan di tengah-tengah masyarakat benar-benar akan terjaga.
Kesempurnaan Islam akan nampak juga dengan pengaturan sistem ekonomi sesuai Islam, sehingga akan terwujud jaminan baik pendidikan, kesehatan, keamanan dan lainnya.
Maka, dampak baiknya bagi para orangtua adalah mereka bisa memberikan perhatian dan pembinaan Islam secara penuh pada anak-anaknya. Demikianlah solusi komprehensif dalam mengurai problem maraknya tindakan kejahatan yang dilakukan pemuda. Semoga Allah mudahkan.
Wa ma tawfiqi illa billah wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unib.
Oleh: Dahlia Kumalasari
Pendidik
0 Komentar