Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Negeri Paman Sam Terus Berkelahi Melawan Inflasi


Topswara.com -- Negeri Paman Sam tengah menjadi sorotan. Sebagai negara maju dan merupakan salah satu pusat keuangan dunia, Amerika Serikat (AS) berkelahi dengan inflasi yang makin menjadi-jadi selama berbulan-bulan.  

Pada Juli ini, inflasi AS kembali melejit. Indeks Harga Konsumen (CPI/IHK) tercatat 9,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) dalam pengumuman Rabu (13/7/2022) pagi waktu setempat. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam 41 tahun terakhir. Angka itu juga jauh di atas perkiraan sejumlah ekonom yang dikumpulkan media dan lembaga, seperti Dow Jones, 8,8 persen.

Diberitakan oleh cnnindonesia.com (15/7/2022), ribuan keluarga berbondong-bondong mengantre makanan bantuan di bank pangan setiap harinya di sejumlah organisasi bank makanan yang tersebar di berbagai penjuru Negeri Paman Sam. 

Juru bicara Bank Makanan St. Mary, Jerry Brown, mengatakan bahwa lebih dari 900 keluarga berbaris di berbagai cabang organisasi mereka setiap harinya. Banyak bank pangan AS pun kesulitan memenuhi permintaan warga, mengingat pemerintah kini memberikan lebih sedikit makanan untuk didistribusikan. Donasi toko kelontong juga berkurang.

Bukan hanya AS, perkelahian sengit melawan inflasi juga terjadi di Inggris. Pergantian Perdana Menteri Inggris Boris  Johnson, yang mengumumkan mundur pada Kamis (7/7/2022), makin menggantung nasib ekonomi Inggris, yang sudah berada di bawah tekanan dari tingkat inflasi menuju dua digit, risiko resesi, dan brexit. 

Kondisi itu akan membuat negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia pada risiko drift lebih lanjut pada saat sterling mendekati posisi terendah dua tahun terhadap dolar AS dan Bank of England (BoE) berada dalam dilema, bagaimana menaikkan suku bunga tanpa merusak kegiatan ekonomi.

Inilah harga mahal kehidupan di era modern ala kapitalisme di negara yang konon menjadi representasi bagi kemajuan ekonomi dunia. Amerika Serikat, dengan titel negara maju karena memiliki tingkat pendapatan per kapita lebih dari US$ 9.000 hingga di atas US$ 20.000, ternyata ribuan warganya harus antre bahan bakar dan jatah makanan setiap hari. 

Dunia mengalami fase stagflasi. Di negara-negara dunia ketiga pun tak ada jaminan bisa selamat dari gelombang inflasi. Sampai-sampai PBB memperingatkan seluruh negara agar waspada. Kondisi ekonomi remuk, angka inflasi kian mengamuk. Banyak negara yang belum pulih luka ekonominya akibat pandemi Covid-19, kini harus bersambung menghadapi risiko invasi Rusia ke Ukraina. 

Sungguh benar kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Ekonomi yang berjalan sempoyongan memicu lonjakan pengangguran di banyak negara. Daya beli masyarakat ikut terimbas menjadi terjun bebas. Antrean bahan pangan di Amerika adalah jawaban atas dampak meroketnya harga-harga pangan dan energi akibat suplai yang kian terbatas. Sungguh, kondisi ini disebut oleh investopedia telah memicu naiknya indeks kesengsaraan. 

Paradoks Kesuksesan Kapitalisme

Tidak dapat dielak, keguncangan ekonomi adalah hal yang wajar melanda setiap negara. Namun, jika hal itu bersifat periodik dan senantiasa berulang-ulang, maka itu pertanda bahwa sistem ekonomi yang diterapkannya menyandang cacat. Inilah yang sedang kita saksikan hari ini dimana kapitalisme yang memayungi sistem perekonomian global kelimpungan mengatasi krisis ekonomi yang berkepanjangan. 

Inflasi dalam kapitalisme ibarat penyakit perekonomian bawaan. Para pemimpin negara kapitalis tidak pernah mampu menyembuhkan kecuali sekadar meredakan rasa sakitnya, sementara sumber penyakit itu sendiri tidak pernah tersentuh.

Bila kita cermati, kesuksesan negara-negara kapitalis seperti AS dalam membangun perekonomian negaranya diiringi pula kesuksesan dalam mencipta kesenjangan global yang menjurang, migrasi massal ekonomi dari negara-negara yang lebih miskin untuk mengais pekerjaan meski dengan risiko yang buruk di tempat kerja seperti upah dan jam kerja yang tidak proporsional, penyiksaan oleh majikan, eksploitasi, dan lain-lain. 

Mesin industri kapitalis juga membenarkan privatisasi dan liberalisasi SDA, deregulasi pasar bebas yang menekan negara-negara ’gurem’ untuk ikut aturan mainnya. 

Negara kapitalis AS dan juga negara-negara yang menjadi guru kapitalisme pada umumnya akan menempuh jalan yang sama dalam mengatasi persoalan ekonomi. Cara-cara seperti menaikkan pajak, menambah uang yang beredar, atau penetapan harga maksimum senyatanya belum cukup ampuh menyembuhkan perekonomian mereka. 

Jika negara dedengkot kapitalisme saja gagal menemukan obat penyakit perekonomian mereka, akankah negara-negara followernya bisa berhasil dengan cara yang sama? Paling banter hanya meredakan demamnya saja, sementara penyakitnya masih tetap bersarang. Inflasi akan kambuh lagi kapan saja tanpa bisa diduga bahkan bisa lebih parah.

Kembali pada Jalan Pendahulu

Sudah waktunya dunia islam merapat dan kembali pulang pada jalan para pendahulunya, yakni khulafaur rasyidin dan para khalifah (pemimpin negara khilafah) sesudahnya dalam menjalankan roda perekonomian negara. Mereka mewarisi metode dari Sang Rasul yang dibimbing wahyu dalam mengatur urusan manusia, termasuk urusan ekonomi pada level negara. 

Dan jalan panjang penerapannya yang berbilang belasan abad, telah menghiasi dunia dengan kemakmuran. Sampai hari ini, tak satupun negara yang katanya adidaya mampu menyaingi ‘kehebatan’ negara khilafah dalam hal kesejahteraan dan juga dalam banyak prestasi unggul lainnya.

Ekonomi islam adalah ekonomi berbasis sektor riil yang berbeda diametral dengan ekonomi kapitalisme yang berbasis moneter atau sektor non riil. Karenanya dalam pandangan islam, keuntungan ekonomi hanya diperoleh melalui kerja riil dalam produksi barang atau jasa. 

Sedangkan dalam kapitalisme, keuntungan  ekonomi diperoleh bukan melalui kerja produktif melainkan kerja spekulatif melalui aneka kredit perbankan serta jual beli surat berharga seperti saham, obligasi, dan sebagainya. Ekonomi yang berbasis kerja spekulatif dalam sektor moneter ini tidak dapat dipisahkan dari bunga (riba). Sementara dalam pandangan Islam, riba adalah haram (QS 2:275).

Mata uang Islam, yakni dinar dan dirham juga berbeda dengan mata uang kapitalisme, yakni mata uang kertas (fiat money). Sistem fiat money ini terbukti memiliki kelemahan mendasar yakni rentan inflasi. Selain itu fiat money juga jauh dari  nilai keadilan karena nilai intrinsiknya berbeda dengan nilai nominalnya dan terdepresiasi oleh inflasi permanen. 

Sebagai contoh, jika kita memiliki uang sebesar Rp. 100.000 sekarang dibandingkan uang yag sama pada sepuluh tahun yang lalu atau 20 tahun yang lalu, samakah nilainya jika dibelanjakan? Berapa banyak barang atau jasa yang didapat dari keduanya di waktu yang berbeda? 

Berbeda halnya dengan mata uang dinar dan dirham. Nilai inflasinya sangat kecil. Sebagai contoh jika kita memiliki uang sebesar 1 dinar (4,25 gram emas), kita bisa membeli seekor kambing untuk kurban. Di era Rasul yakni 13 abad yang lalu, harga kambing juga berada di kisaran 1 dirham. Hebat, bukan?!

Keunggulan mata uang dinar dan dirham tidak dimiliki oleh dolar AS yang disebut-sebut sebagai hard currency dunia yang digunakan sebagai standar nilai dan alat pembayaran dalam perdagangan internasional. Dinar dan dirham memperkokoh perekonomian, sedangkan kapitalisme melumpuhkannya lantaran rentan inflasi.

Jika sistem ekonomi islam 13 abad silam terbukti mampu menjawab persoalan ekonomi dengan cemerlang, maka di era modern hari sistem ekonomi islam ini tidak hanya mampu menyembuhkan perekonomian yang sakit tetapi juga mengangkat  kehidupan umat pada taraf makmur. Islam memberikan rambu-rambu syariah yang komprehensif dalam mengelola kekayaan negara.

Mewujudkan kehidupan Islam di era sekarang memang berat, namun bukan berarti tidak mungkin. Karenanya, diperlukan kerja sungguh-sungguh dari komponen umat Islam untuk terus menyampaiakn gagasan Islam kafah ke tengah-tengah umat agar mereka meyakini Islam sebagai jalan keluar semata wayang dari seabreg persoalan. Hingga akhirnya umat pun turut memperjuangkan tegaknya institusi yang menopang kehidupan islam, yakni khilafah islamiyah.



Oleh: Pipit Agustin
Founder Hijrah Kaffah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar