Topswara.com -- Di negara ini tidak akan pernah kehabisan orang-orang yang cerdas dan berprestasi. Tidak sedikit setiap tahunnya negara ini melahirkan banyak sarjana yang berprestasi, baik itu dalam bidang akademik atau yang lainnya. Itu menandakan makin banyak generasi yang memiliki ilmu pengetahuan.
Ternyata, begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan. Baik itu ilmu dunia ataupun ilmu agama keduanya menjadi hal yang penting yang harus dipelajari.
Dalam menuntut ilmu tidak sedikit orang-orang yang menempuh pendidikan untuk bersekolah ke luar negeri hanya agar mendapatkan pendidikan terbaik. Mengorbankan harta bahkan, rela berjauhan dengan keluarga semua itu dilakukan karena ingin menuntut ilmu pengetahuan.
Namun sayang, tidak sedikit dari kalangan intelektual yang merasa bahwa ilmu dunia adalah satu-satunya yang paling penting sedang ilmu agama tidak begitu penting. Padahal, jika dikaji lebih dalam ilmu agama jauh lebih penting. Inilah salah satu kesalahan dalam berpikir. Akhirnya, dari cara berpikir yang salah tentu akan menimbulkan masalah.
Seperti yang baru saja menjadi sorotan ada seorang rektor yang menuliskan pendapatnya pada media sosial dan menyinggung perkara sara. “Rektor Institut Teknologi Kalimantan atau ITK, Budi Santosa Purwokartiko, sedang menjadi sorotan akibat menyebut mahasiswi berjilbab dengan istilah manusia gurun. Ucapannya itu pun dinilai rasis karena memuat unsur SARA, (solopos.com, 01/05/2022). ”
Akibat dari pemikiran yang salah akhirnya banyak ajaran agama yang dihina dan dianggap tidak lagi relevan apabila dilakukan di zaman sekarang ini. Satu per satu setiap ajaran agama akan di benci bahkan sangat dianggap menggangu.
Tampak jelas bahwa orang yang memiliki pemahaman seperti itu sudah terpapar sekularisme, yaitu pemahaman yang memisahkan agama dari kehidupan. Kehidupan tidak boleh diatur oleh ajaran agama, sehingga apa saja yang berkaitan dengan agama harus ditinggalkan.
Sangat disayangkan kenyataan yang terjadi hari ini bahwa banyak dari jajaran intelektual yang terpapar paham sekulerisme. Mereka lebih condong terhadap hal-hal yang berbau duniawi saja. Sehingga, muncul keangkuhan dalam diri bahwa prestasi terbaik adalah prestasi yang berasal dari akademik. Beginilah hidup dalam naungan sistem demokrasi- kapitalis mampu mendangkalkan pemikiran seseorang.
Sebenarnya di dalam Islam kita diperbolehkan untuk menuntut ilmu ke mana saja yang kita mau, bahkan untuk menuntut ilmu dunia Islam tidak pernah melarang hal itu sebab, ilmu dunia juga menjadi kebutuhan akan hidup.
Hanya saja, yang menjadi pertimbangan ketika seseorang menuntut ilmu adalah apakah ilmu yang akan dipelajari itu benar, artinya tidak menyalahi ajaran agama atau apakah ilmu yang sudah di pelajari nantinya akan bisa bermanfaat, baik itu untuk diri sendiri ataupun orang lain. Mampukah ilmu yang sudah dipelajari semakin menghantarkan kita pada ketakwaan kepada Allah atau tidak?
Hal yang demikian memang harus menjadi perhatian sebab telah banyak kita temui ada sebagian orang yang ahli dalam menuntut ilmu dunia dan mereka juga ahli dalam meninggalkan ilmu agama nya. Seharusnya, yang demikian tidak boleh sampai terjadi apalagi, pada seorang Muslim.
Maka, apabila seorang Muslim hendak mempelajari ilmu dunia tentu itu diperbolehkan tapi dengan tidak meninggalkan ilmu agama. Artinya, setiap Muslim tidak diperkenankan untuk mengadopsi pemahaman sekularisme atau yang lain yang tidak berasal dari Islam didalam kehidupannya. Dari situ akan banyak nantinya ajaran agama yang ditinggalkan dan ini merupakan perbuatan dosa.
Sebab, setiap pemahaman yang ada didalam Islam itu telah sempurna dan tidak perlu bagi kita membenturkan atau mencampuradukan pemahaman Islam dengan pemahaman lain. Cukuplah Islam satu-satunya yang harus kita jalankan dalam kehidupan ini. Karena hanya Islam yang mampu melahirkan orang-orang yang berilmu dan tentunya juga bertakwa kepada Rabb-Nya.
"Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya dapat memperoleh keridhoan Allah SWT., (tetapi) ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan harumnya surga di hari kiamat nanti," (HR
Abu Daud).
Wallahualam bissawab.
Oleh: Astri Ahya Ningrum, S.Pd.
Praktisi Pendidikan
0 Komentar