Topswara.com -- Setahun sudah pandemi menghampiri. Sekian juta orang di dunia sudah menjadi korban, bahkan belum ada tanda-tanda kepergian virus ini. Maklum, upaya menuntaskannya hanya setengah hati. Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), muncullah Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Untuk wilayah Jawa dan Bali aturan ini berlaku sejak 3 hingga 20 Juli 2021. Keputusan ini diambil dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19 yang semakin meninggi. Bahkan seiring berjalannya waktu muncul berbagai macam varian baru yang disebut-sebut penularannya cepat. (cnbcindonesia, 2/7/2021)
Pengetatan kegiatan ini antara lain meliputi 100 persen Work From Home (WFH) untuk non-esensial, 50 persen Work From Office (WFO) untuk sektor esensial, dan untuk sektor kritikal 100 persen WFO. Aktivitas belajar mengajar 100 persen dilakukan secara online/daring. Swalayan, toko, pasar dibatasi hingga pukul 20.00 dengan kapasitas pengunjung sebanyak 50 persen. Kartu vaksin untuk yang melakukan perjalanan.(tempo.co, 2/7/2021)
PPKM Tidak Efektif, Butuh Cara Alternatif
Sebagai masyarakat umum, tentu hanya bisa geleng-geleng kepala dengan segala kebijakan yang ada. Berganti-ganti kebijakan hanya menunjukkan kebingungan pemerintah. Dari awal, ketika terdapat wacana karantina total, hanya ditanggapi dengan datar. Atas pertimbangan sektor perekonomian, maka pemerintah hanya memberlakukan PSBB.
Kebijakan PSBB pun usai dengan waktu yang singkat. Kebijakan new normal akhirnya disahkan. Kasus pun kian hari semakin bertambah, bahkan melonjak. Bukan lagi ratusan, tapi ribuan. PPKM akhirnya menjadi opsi utama. Hingga akhirnya kebijakan ini diberlakukan, akankah efektif?
Ketika kasus menembus jutaan korban, seolah baru menyadari bahwa ada yang salah dengan kebijakan selama ini. Tetapi kesadaran itu sepertinya sia-sia. Sudah banyak nyawa berjatuhan. Ribuan rakyat tidak berdosa telah menjadi korban. Apakah keterlambatan dari kesadaran ini dapat mengembalikan nyawa rakyat yang sudah tiada?
Mengapa banyak rakyat yang mengacuhkan peraturan? Kemungkinan besar rakyat sudah jenuh. Gonta-ganti kebijakan sama sekali tidak membuahkan hasil. Korban berjatuhan tambah banyak. Sekalipun mereka ingin diam di rumah saja, tetapi tidak ada yang menjamin pemenuhan hidup. Pada akhirnya rakyat tidak mempunyai jalan lain, keluar rumah hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.
Jika dipikirkan secara matang, semua kebijakan pandemi dari awal hingga kini berasal dari dugaan manusia semata. Dugaan yang hanya bertumpu pada akal manusia. Pertimbangan ekonomi lebih utama dari keselamatan rakyat.
Islam Berpegang pada Wahyu
Islam dengan seperangkat konsep dalam mengatasi wabah begitu komprehensif. Mulai dari pencegahan/preventif, aspek promotif, kuratif, hingga rehabilitatif. Konsep yang utuh dan menyeluruh ini terkait dengan berbagai aspek, baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun politik dalam negeri.
Upaya preventif, konsep karantina akan langsung ditetapkan di tempat yang terkena wabah pertama kali sekaligus menutup pintu-pintu perbatasan yang ada, disertai dengan jaminan hidup pokok bagi penduduk wilayah karantina.
Testing, negara akan melakukan sebanyak-banyaknya, sekaligus tracking untuk menjelajahi bagaimana penularan. Hingga akhirnya jelas dan dapat dipisahkan antara rakyat yang terkena wadah dengan yang tidak.
Saat pertama kali mendengar wabah meluas di luar negeri, negara akan segera menutup pintu-pintu perbatasan. Ketika wabah itu telah ada di dalam negeri, karantina wilayah setempat diberlakukan. Misalnya Wuhan menjadi bagian dari negara Islam, maka sangat mudah bagi negara menyelesaikan persoalan pandemi ini.
Aspek Promotif, melalui unit penerangan.
Negara akan memberikan berbagai info yang benar tentang konsep 5M yang harus dilakukan masyarakat sekaligus menyaring segala bentuk berita hoaks. Negara juga menggencarkan untuk menjaga diri, sehingga jangan sampai menimbulkan bahaya bagi lingkungan dan sesamanya, maka akan muncul kesadaran untuk saling menjaga.
Kuratif/pengobatan, melalui penelusuran dan tes secara massal, akan mudah terdeteksi secara cepat dan tepat rakyat yang sakit. Sehingga dapat segera memisahkan antara mereka yang sehat dan sakit. Tindakan totalitas dengan perawatan dan pelayanan medis terbaik dan gratis pun dilakukan.
Demikian juga bagi Orang Tanpa Gejala (OTG), akan dirawat dengan isolasi yang terpusat dalam pengawasan medis. Negara akan memfasilitasi ilmuwan untuk terus melakukan penelitian untuk menemukan formula yang tepat dan penelitian vaksin terbaik guna menuntaskan wabah.
Rehabilitatif, bagi yang terpapar, misalnya terdapat kepala keluarga yang sakit atau wafat dan meninggalkan tanggungan keluarga, maka negara akan hadir di garda terdepan memberikan bantuan. Bahkan akan memenuhi kebutuhan keluarga tersebut secara penuh jika tidak ada di antara keluarga besarnya yang bisa menggantikan untuk menanggung nafkah.
Apakah kita tidak rindu dengan dengan kehidupan yang seperti itu?
Wallahu a'lam bisshawab
Oleh: Fitria Zakiyatul Fauziyah CH (Mahasiswi STEI Hamfara Yogyakarta)
0 Komentar